Ibu Ani Berhasil sembuh dari nyeri tumit kronis dan kini mampu menjalani hidup yang penuh arti.

Berawal dari menyepelekan nyeri tumit ringan yang sering saya alami, ternyata malah membawa malapetaka. Begini cara ibu Ani berhasil melewati masa paling suram saat terpaksa menggunakan kursi roda, sampai akhirnya bisa sembuh total dan bisa berjalan normal kembali…

Hallo perkenalkan, Saya Ani. Saat ini saya berusia 44 Tahun. Saya seorang Make Up Artist (MUA) di kota Surabaya dan memiliki 3 orang anak. Pekerjaan saya berjalan cukup baik, saya punya cukup banyak klien dan sering mendapat job untuk make up di acara pernikahan dan pesta.

Namun ada masa dimana saya sudah tidak bisa lagi menerima job MUA lagi, karena nyeri tumit yang semakin parah dan datang setiap hari. Di tulisan singkat kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya dalam mengatasi nyeri tumit ini.

Saya akan bercerita tentang perjuangan saya melawan Nyeri Tumit Kronis ini!

Pada awalnya saya sering mengalami nyeri tumit ringan, seperti pada saat bangun tidur, berdiri terlalu lama saat bekerja ataupun saat memasak di dapur. Saya mengabaikan hal ini. Saya pikir mungkin saya sedang kecapek-an, jadi saya biarkan hilang sendiri tanpa diobati dan ini terjadi cukup lama.

Pernah suatu hari, ketika sedang berkumpul dengan keluarga besar, nyeri tumit saya kambuh karena saya duduk bersila terlalu lama. Susah rasanya untuk berdiri dan berjalan. Akhirnya saya jadi bahan olok-olok an keluarga. Saya diejek: “Wah masi muda kok kalah sama nenek enek?”.  Ada juga yang mengolok: “Wah ini pasti kebanyakan tidur dan kurang gerak di rumah”.

Niatnya sih bercanda, tapi ya tetap saja bikin jengkel di hati. Mereka ngga tau capeknya saya bekerja sebagai Make Up Artist sekaligus membesarkan 3 Anak plus mengurus suami.

Saat bekerja dan ber-aktifitas sehari-hari, saya mulai tidak leluasa bergerak. Saya mulai tidak kuat jika harus berdiri lama ataupun berjalan agak jauh.

Lama kelamaan kok nyeri nya jadi semakin sering kambuh dan rasa sakitnya semakin parah. Kaki terasa panas dan seperti ditusuk puluhan jarum. Tidak seperti biasanya, kali ini sakitnya tak kunjung hilang, bahkan pernah seharian saya kesakitan hingga tidak bisa berjalan.

Sebagai ibu rumah tangga berprofesi sebagai Make Up Artist (MUA) , ini semua sangat tidak mudah. Dengan nyeri tumit yang semakin hari, semakin parah, saya terpaksa menolak bahkan melempar job  kepada teman MUA yang lain.

Hingga suatu saat petaka itu datang..

Suatu hari saya ada job merias pengantin, malam nya saya sudah mempersiapkan dan mengirim pesan kepada client bahwa saya akan tiba di rumah beliau jam 7 pagi.

Tapi, keesokan harinya, ketika bangun tidur, kaki saya sakit luar biasa. Rasanya seperti terbakar dan di tusuk ratusan jarum. Saya nyaris tidak bisa berjalan saat itu, mencoba berdiri dan berjalan pelan-pelan, namun semakin sakit.

Akhirnya saya menghubungi klien saya dan membatalkan job MUA saat itu juga. Saya merasa sangat tidak enak dengan klien saya. Apalagi klien saya ini sudah sering menggunakan jasa saya untuk wisuda, photoshot, dll, tapi saya pun ngga bisa berbuat banyak. Saya juga sudah coba calling teman MUA lain, tapi semua juga sedang ada job.

Dengan rasa bersalah saya meminta maaf dan mengembalikan uang DP dari client saya tersebut. Dan saya meminta klien saya untuk mencari MUA pengganti yang lain.

Klien saya jelas kecewa dan memaki saya karena tidak professional, hingga mengupload nya ke social media. Sebenarnya klien saya tidak salah, kalau saya di posisi klien mungkin saya juga akan marah.

Semakin hari kondisi saya semakin buruk..

Beberapa jam setelahnya, kondisi saya semakin memburuk, sampai harus menggunakan kursi roda. Saat itu saya diantar suami untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam.

Dokternya tidak banyak bicara, hanya mengatakan kalau nyeri tumit yang saya alami disebabkan oleh plantar fasciitis, lalu saya diberi resep obat.

Saya hanya membaik sementara saat minum obat dokter. Setelah efek obatnya hilang, rasa sakitnya muncul kembali.

Terpaksa saya harus pakai kursi roda setiap hari (judul ini jg kerasa kurang pas)

Sejak di kursi roda, saya jadi sensitif, mudah marah dan uring-uring an, merasa hidup ini hancur. Suatu hari suami mengajak ke mall agar pikiran saya lebih fresh dan tidak bosan di rumah terus.

Tapi, setelah sampai di mall, semua orang di sana melihat saya dengan raut muka kasihan. Saya semakin malu dan merasa jadi orang yang paling malang dan tidak berguna. Saya yang biasanya selalu mandiri, setir mobil sendiri, punya pekerjaan sendiri dan biasa pergi ke tempat klien sendiri, kali itu harus duduk di kursi roda dan dikasihani orang lain.

Sepulang dari mall, tidak seperti biasanya, malam itu anak-anak minta tidur bersama di kamar saya dan suami.

Sebelum tidur, saya melihat kesedihan yang amat dalam di mata suami dan anak-anak saya. Malam itu mereka bisa tidur dengan cepat, mungkin karena kecapekan setelah jalan-jalan. Tapi saya tidak bisa tidur.

Saya menangis melihat anak yang masih kecil-kecil dan suami yang sudah tertidur pulas. Jika saya terus lumpuh dan tidak bisa berjalan selamanya, maka saya sudah tidak bisa lagi berperan sebagai ibu yang baik untuk anak saya. Sudah tidak bisa lagi masak makanan kesukaan mereka, tidak bisa lagi membuatkan bekal untuk si kecil dan membuatkan sarapan untuk mereka semua.

Pikiran saya pun melayang, dan muncul rasa khawatir ditinggal suami. Saya khawatir tidak bisa melayani suami dengan baik seperti biasanya, sehingga suami tertarik dengan wanita lain dan meninggalkan saya sendiri.

Semua pikiran jelek, rasa khawatir dan kesedihan meluap malam itu. Saya menangis sejadi-jadinya.

Saya berusaha berobat dari satu dokter ke dokter lainnya..

Ada dokter yang memberi saya resep obat, namun banyak juga dokter yang menyarankan saya untuk operasi, karena kondisi saya yang sudah kronis.

Jujur, saya sendiri takut operasi. Saya berpikir jika operasi gagal, mungkin kondisi saya akan semakin buruk dan bahkan saya akan menggunakan kursi roda selamanya.

Setelah berobat ke banyak dokter, dan menghabiskan belasan juta rupiah, saya hanya mendapati fakta bahwa obat dokter hanya meredakan rasa nyeri tumit sementara saja. Setelah obat habis, sakitnya kembali datang lagi dan lagi. Bukannya makin mendekati kesembuhan, rasa nyeri-nya makin sering datang dan makin hebat.

Saya juga coba berbagai pengobatan herbal…

Selain pengobatan medis, saya juga sudah coba beberapa obat herbal yang saya beli di internet. Ada yang berbahan dasar madu, ada yang berbentuk kapsul, sirup, Salep, bahkan ada yang berbentuk Koyo yang katanya bisa mengatasi nyeri tumit.

Semuanya meng-klaim ampuh untuk mengatasi nyeri tumit, tapi nyatanya tidak ada yang berhasil.

Obat herbal biasanya menggunakan bahan jahe merah, kunyit, temulawak, dan yang paling sering digunakan adalah madu.

Saya pikir-pikir ngga masuk akal, masa sih 1 obat bisa sembuhin banyak banget penyakit. Dengan kandungan tanaman herbal yang itu-itu aja, saya sampai hafal lho.

Bahkan saya pernah coba obat herbal yang katanya bisa mengobati berbagai macam penyakit, mulai nyeri tumit, asam urat, kolesterol, dll (sesuaikan dgn obat kompetitor). Setelah minum 4 botol, juga tidak ada hasilnya sama sekali. Kalau dipikir pikir, saya merasa bodoh banget. Mana ada 1 obat yang bisa manjur untuk banyaaak penyakit.

Kira kira sudah lebih dari 15 merk herbal sudah saya coba dan tidak ada satu pun yang berhasil. Cuma kerasa di kantong aja karena harganya yang mahal.

Saya juga berfikir, obat dokter saja sulit untuk menyembuhkan nyeri tumit ini, apalagi yang hanya menggunakan tanaman herbal yang itu-itu aja.

Sampai suatu hari saya bertemu dengan teman lama..

Ia mengajak saya berobat ke shinshe (Ahli Herbal China) yang bernama Bpk. Hidayat Alim.

Awalnya saya menolak. Tapi teman saya memberi tahu bahwa Shinshe ini berbeda dengan tabib pada umumnya. Beliau adalah Shinshe Senior Lulusan Singapore dalam bidang Chinese Medicine yang sudah praktek sejak tahun 1982 di Indonesia.

Saya pikir, di Indonesia jarang ada Shinshe yang benar benar kuliah chinese medicine formal dari luar negeri. Biasanya Shinshe – Shinshe yang saya temui, hanya buka praktek berdasarkan pengalaman saja dan tidak jelas keilmuannya. Tapi Shinshe Hidayat ini berbeda dengan Shinshe pada umumnya.

Akhirnya saya berobat ke Shinshe Hidayat ini dan beliau memberi saya kapsul Lanurat. Kapsul lanurat ini beliau racik sendiri dengan menggunakan tumbuhan herbal China dan Indonesia.

Ternyata bahannya sangat berbeda dengan herbal yang sudah saya konsumsi. Beliau menggunakan bahan utama dari beberapa tanaman langka yang sulit di budidayakan. Oleh karena itu jenis tanamannya sangat dirahasiakan dan lanurat ini diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas.

Akhirnya saya coba minum lanurat ini..

Tahapan kesembuhan yang saya alami..

  • Setelah minum lanurat 1 minggu, sakit tumit sudah agak berkurang dan saya sudah bisa berjalan pelan-pelan menggunakan tongkat.
  • Setelah minum lanurat 2 minggu, kaki kanan saya sudah bisa digunakan untuk berjalan pelan-pelan.
  • Setelah minum lanurat 3 minggu, kaki kiri saya juga sudah berangsur membaik, bisa digunakan untuk berjalan tanpa menggunakan tongkat. Rasa sakitnya hampir hilang tapi telapak kaki masih kaku.
  • Setelah minum lanurat 4 minggu, sakit tumit saya hilang total, telapak kaki juga sudah tidak kaku.
  • Di minggu ke 5 sampai minggu ke 8 saya masih minum lanurat tapi dengan dosis rendah untuk perawatan saja. Setelah minggu ke 8, saya sudah tidak minum lanurat sama sekali.

Ajaibnya, sakit tumit hilang sama sekali dan tidak pernah kambuh lagi. Kini sudah lebih dari 3 tahun dan sakit tumit saya sudah tidak pernah datang lagi.

Tahun lalu, pas kebetulan saya liburan ke Malang, saya sempatkan untuk mampir ke rumah Sinshe Hidayat sekedar untuk memberi oleh oleh sebagai ucapan terima kasih. Beliau senang, saya sudah sembuh total dan tidak pernah kambuh lagi. Beliau bercanda: “Kalau obatnya terlalu manjur juga ada ngga enaknya buat saya. Kalau Pasien sembuh dan ngga kambuh lagi, artinya sudah ngga beli beli lagi obat herbalnya…hehehe”. Saya pun ikut tertawa. Tapi ya memang benar adanya. Pasien pasien yang sudah sembuh tuntas, ya tidak perlu minum Lanurat lagi.

Beberapa hari lalu, saya dikabari oleh anaknya pak hidayat Alim bahwa kini lanurat sudah dijual online., tapi memang jumlahnya terbatas karena tanaman langka ini hanya bisa dipetik di bulan Januari dan Juni saja.

Jika stok habis, maka penjualan akan dihentikan dan terpaksa customer harus menunggu sekitar bulan Januari atau Juni. Jadi, selagi stok masih ada, segera amankan stok untuk kesembuhan anda.

Pengobatan ini jauh lebih murah dan tanpa resiko sama sekali lho. Beda sekali dengan operasi. Operasi biayanya puluhan juta rupiah, belum tentu bisa sembuh, bahkan ada banyak resiko besar jika operasi tidak berhasil dengan baik. Dan kabarnya, operasi pun tingkat keberhasilannya tidak tinggi.

Jangan sampai operasi deh. Coba Lanurat aja dulu. Banyak teman dan saudara saya juga minum Lanurat ini dan hampir semua sembuh total.

<Ya, Saya Mau Pesan Lanurat dan Sembuh Total dari Nyeri Tumit>

<testi>

<Ya, saya mau pesan Lanurat dan sembuh dari nyeri tumit sekarang>